Ketika saya kunjungi pasar sasen-begitu kawan-kawan menyebutnya, saya sangat takjub. Betapa tidak, yang terpampang di depan saya adalah lalu lalang penjual dan pembeli yang tak jelas siapa penjual siapa pembeli karena situasi serba tak formal, pakaian yang dikenakan pakaian santai, barang dipajang diatas tanah, meja dan kursi seadanya. Ada yang dibawah atap, ada yang dibawah pohon, ada yang tanpa naungan sama sekali. Beberapa bangku juga tersedia untuk diduduki oleh siapapun yang hadir, dicadangkan untuk ngobrol ataupun istirahat.